TASWA

"TASWA" (Tri , Ayu , Siti, Weli, Ani)

Kepompong By Sindentosca

Dulu kita sahabat
Dengan begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong


Selasa, 23 Agustus 2011

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN BAKAT SISWA UNTUK BERPRESTASI

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa  yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya  sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan.
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai  tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran dengan judul “Peran Guru Dalam Mengembangkan Bakat Siswa Untuk Berprestasi”.
Terima kasih saya sampaikan kepada Bapak Kusnadi, S.Pd. M.Pd. selaku dosen mata kuliah Belajar Pembelajaran  yang telah membimbing dan memberikan materi kuliah demi lancarnya tugas ini.
Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas mata kuliah Belajar Pembelajaran.

                                                          Bekasi, 8 Februari 2010
Penyusun

Siti Maemunah


DAFTAR ISI

       I.            KATA PENGANTAR
    II.            DAFTAR ISI
 III.            BAB I PENDAHULUAN
a.                   Latar Belakang
b.                  Tujuan
IV.            BAB II PEMBAHASAN
a.                   Pengertian Bakat
b.                  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bakat
c.                   Kendala-Kendala Guru Dalam Mengembangkan Bakat Siswa
d.                  Pengertian Peserta Didik
e.                   Macam-Macam Kebutuhan Siswa
f.                    Kaitan Antara Bakat dan Prestasi
g.                   Upaya Guru Dalam Mengembangkan Bakat Siswa Untuk Berprestasi
   V.            PENUTUP
VI.            DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
1.     Latar Belakang
Secara alamiah perkembangan anak itu berbeda-beda baik dalam intelegensi, bakat, minat, kreativitas, kematangan emosi, kepribadian, keadaan jasmani, dan keadaan sosialnya. Perbedaan perkembangan ini secara jelas dapat dilihat selama proses belajar mengajar atau proses pembelajaran di dalam kelas. Sebagai seorang pendidik dan pengajar sudah seharusnyalah guru berperan dalam mengenal, mengembangkan, dan memotivasi bakat siswa untuk selalu berprestasi disegala bidang, perlu kerjasama antara guru dan keluarga untuk mewujudkan hal tersebut.
2.     Tujuan
a.      Mengenal bakat yang dimiliki siswa
b.     Upaya Guru Dalam Mengembangkan bakat yang dimiliki siswa untuk berprestasi






PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN BAKAT SISWA UNTUK BERPRESTASI

1.     Pengertian Bakat
Bakat (aptitude) adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya kemampuan berbahasa, bermain musik, melukis, dan lain-lain. Seseorang yang berbakat musik misalnya, dengan latihan yang sama dengan orang lain yang tidak berbakat musik, akan lebih cepat menguasai keterampilan tersebut. Untuk bisa terealisasi bakat harus ditunjang dengan minat, latihan, pengetahuan, pengalaman agar bakat tersebut dapat teraktualisasi dengan baik.
2.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bakat
Adapun sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat seseorang tidak dapat mewujudkan bakat-bakatnya secara optimal, dengan kata lain prestasinya di bawah potensinya dapat terletak pada anak itu sendiri dan lingkungan.
a.      Anak itu sendiri
Misalnya anak itu tidak atau kurang berminat untuk mengembangkan  bakat-bakat yang ia miliki, atau kurang termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi, atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia mengalami hambatan dalam pengembangan diri dan berprestasi sesuai dengan bakatnya.
b.     Lingkungan anak
Misalnya orang tuanya kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan atau ekonominya tinggi tetapi kurang memberi perhatian terhadap pendidikan anak.
3.     Kendala-Kendala Guru Dalam Mengembangkan Bakat Siswa
Mengapa siswa sangat sulit untuk bertindak kreatif? Dalam kenyataannya, seseorang sering menghadapi kendala dalam mengembangkan kreatifitasnya. Dari beberapa sumber kendala tersebut salah satu diantaranya adalah sekolah dan guru. Tanpa disadari oleh guru atau sekolah, sering kita temui beberapa tindakan guru yang bermaksud untuk mengembangkan kreatifitas, namun tindakan yang dilakukan justru membunuh kreatifitas itu sendiri. Misalnya, guru lebih menekankan pada hasil belajar berupa angka-angka ketimbang proses yang mengembangkan kreatifitas, tidak menanggapi umpan balik dari siswa tentang proses kegiatan belajar mengajar atau guru senantiasa mengawasi dan khawatir dengan tindakan siswa di kelas. Beberapa contoh lain dari hambatan pengembangan kreatifitas di sekolah adalah guru sering memberikan instruksi yang terlalu detail tentang apa yang harus dilakukan oleh siswa sehingga siswa tidak mampu berkreasi secara bebas.
1. PYGMALION EFFECT
Ketika guru masuk ke dalam kelas, sebenarnya guru telah membawa sebuah sikap yang ditentukan oleh harapan guru tersebut kepada siswanya. Bila guru akan masuk ke dalam kelas yang sebagian besar muridnya memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, maka guru cenderung bersemangat dan memiliki harapan yang tinggi pula terhadap anak-anaknya. Sementara ketika akan masuk ke dalam kelas yang mayoritas siswanya terdiri atas siswa yang memiliki kecerdasan rata-rata maka guru pun akan cenderung memiliki harapan yang rendah. Sikap dan harapan ini akan berdampak pada “semangat” dan sikap guru dalam mengajar anak/siswanya.
Dalam istilah motvasi kita mengenal istilah Pygmalion effect, yaitu bahwa tanpa disadari seseorang berperilaku sebagaimana ia percaya orang lain mengharapkan ia berperilaku. Jika siswa menyadari atau tidak, gurunya memberikan harapan yang tinggi kepada mereka, maka mereka akan melakukannya sesuai dengan harapan guru tersebut. Namun sebaliknya, bila siswa menyadari atau tidak bahwa gurunya tidak mempercayai mereka bisa berbuat yang terbaik, maka mereka akan cenderung bertindak sesuai dengan harapan gurunya. Oleh karena itu, ketika guru akan masuk ke dalam kelas, maka setiap guru harus berada pada titik 0, yaitu suatu keadaan batin dan sikap netral memandang siswanya untuk kemudian secara sadar memberikan sikap dan perlakuan yang sama kepada semua siswanya. Hal ini akan mengurangi dominasi prasangka dan perasaan ketika akan memulai mengajar. Misalnya, karena masuk ke dalam kelas yang siswanya didominasi oleh siswa cerdas maka guru tersebut memberikan bentuk soal latihan atau test yang lebih menantang sementara karena masuk kelas yang siswanya memiliki kecerdasan rata-rata maka guru memberikan soal atau latihan yang tidak menantang.
Pygmalion effect juga sering disebut self fulfilling prophesy, yaitu bahwa tanpa disadari orang akan berperilaku sebagaimana mereka percaya orang lain mengharapkan mereka berperilaku (Chaplin, 1976). Jadi pada prinsipnya, prestasi dan kreatifitas siswa akan sangat dipengaruhi juga oleh sikap dan perlakukan guru terhadap mereka.
2. METODE HAFALAN
Sampai saat ini, proses kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih menekankan pada hasil ketimbang proses. Hal ini tentunya bukan hanya masalah guru namun juga sistem pendidikan Indonesia secara umum yang memang menekankan hasil berupa angka ketimbang pemahaman dan kemampuan siswa dalam memaknai ilmu dan informasi yang diperolehnya. Metode seperti ini, dalam metode pendidikan disebut sebagai “metode menghapal mekanis”. Metode ini termasuk metode yang sering dipakai dalam sistem pendidikan tradisional yang mengharapkan supaya pendidikan “back to basic” untuk memberikan ilmu dasar sebagai landasan kuat bagi siswa untuk masuk kedalam masyarakat. Pandangan ini bisa menjadi benar ketika kita berpikir bahwa pendidikan tidak ada gunanya jika tidak berdasarkan pembelajaran bahan pengetahuan dasar. Namun kelemahan dari metode ini adalah bahwa menumpuknya ilmu dalam benak siswa belum tentu akan mampu dieksplor atau dimanfaatkan oleh siswa ketika mereka berhadapan dengan masalah sebenarnya dalam hidup, bahkan bisa jadi masalah apabila proses penumpukan ilmu itu pun dilakukan hanya sebatas ingatan semata. Kreatifitas tidak akan muncul melalui pengumpulan ilmu dan teori namun harus dilatih melalui sebuah proses panjang sampai siswa bisa merasakan sendiri dari manfaat ilmu yang dipelajarinya.
Namun dalam perkembangannya, ditengah-tengah masyarakat muncul tuntutan untuk merubah metode tersebut dari metode menghapal mekanis kebentuk metode variatif dimana siswa diberikan kebebasan untuk memahami ilmunya dengan metode “democratic teaching”. Metode democratic teaching lebih menekankan pada proses diskusi dimana siswa diberikan keleluasan waktu untuk mencari pengetahuan secara mandiri dimana guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator.
3. TEKANAN TEMAN SEBAYA
Dalam pertemanan, siswa memiliki masalah yang jauh lebih rumit dari sekedar menghapal sebuah teori atau memahami sebuah rumus. Hampir tidak ada materi pelajaran di kelas yang bisa membekali siswa untuk bisa memahami apa yang mereka alami di lingkungannya. Berbagai macam masalah dan konflik dan permasalahan mengalir begitu deras dalam pergaulan mereka sehari-hari. Berbagai macam karakter guru dan teman terpampang jelas dan menantang di depan wajah mereka.
Lantas dimana guru berperan?Tekanan dari teman bisa muncul dari sikap teman yang meremehkan, berharap banyak, penilaian, ancaman atau sekedar teror “mental” berupa ucapan terhadap tingkah siswa kita. Tekanan itu sangat berdampak dalam kemampuan siswa untuk mengembangkan potensi bila tidak berhasil di”manage” secara bijak. Proses penenggelaman potensi ini berproses dalam jangka waktu tertentu yang berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Sehingga sekolah dan guru memiliki waktu untuk membantu mereka mengatasi masalah dalam pertemanan ini. tanpa bantuan guru, siswa bisa tidak fokus dalam menetapkan prioritas masalah yang harus diselesaikan, diabaikan atau sekedar dipikirkan. Guru hanya membantu dalam proses dimana siswa diberikan masukan, alasan dan alternatif solusi dan setelah itu biarkan siswa memilih sendiri dengan kesadaran untuk menangung segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Proses penyadaran ini diharapkan melatih kemampuan siswa untuk mengatasi segala permasalahannya secara kreatif dan tidak membuat mereka rendah diri untuk sekedar menunjukkan kemampuannya dihadapan teman-temannya. Penyadaran ini memang membutuhkan kesabaran semua pihak, karena dalam masa perkembangan mereka cenderung untuk merasa benar dan telah mampu berdiri sendiri. Jangan datang kepada mereka namun ketika mereka datang, kita harus dalam posisi ada untuk menyambut mereka.
4. MENYIKAPI KEGAGALAN
Kegagalan adalah sebuah kenyataan yang sering dialami oleh setiap orang, termasuk Edison sekalipun. Namun yang menjadi pembeda dengan kita, Thomas Alfa Edison menganggap bahwa setiap kegagalannya adalah sebagai sebuah hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Bagi Edison, kegagalan adalah cara dia menemukan sesuatu yang belum benar. Bukan sebagai akhir dari sebuah proses.
Guru harus mampu menanamkan kesadaran terhadap siswa didiknya bagaimana mengelola sebuah kegagalan sebagai sebuah hikmah atau ilmu yang bermanfaat bagi dirinya ketika menghadapi permasalahan yang sama dimasa mendatang. Memunculkan motivasi kepada anak untuk mampu bangkit dari kegagalan adalah dengan cara membantu siswa untuk memahami sumber atau penyebab utama terjadinya kegagalan tersebut. Guru harus mampu menggiring bahwa penyebab kegagalan adalah bersumber dari segala sesuatu yang sebenarnya bisa dirubah. Kalau ada anak yang menganggap bahwa kegagalan yang diperolehnya karena ketidakmampuan dirinya untuk mencapai keberhasilan, maka guru harus menggiringnya menjadi sesuatu yang bisa dirubah, misalnya karena kurang perencanaan, salah metode atau sekedar kurang giat usaha. Bila siswa tidak diberikan gambaran tentang hal itu dan berkutat dengan keyakinan dirinya, bahwa kegagalan itu adalah karena dirinya tidak mampu, maka siswa akan tidak termotivasi untuk mencapai sasaran berikutnya karena menganggap, tujuan apapun akan gagal karena dirinya tidak mampu.
5. RASA BOSAN YANG MEMUNCAK
Kita menganal Thomas alfa Edison yang dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap tidak mampu belajar dengan baik disekolahnya. Kita mengenal Einstein yang dikatakan malas oleh gurunya dan dihakimi tidak akan berhasil dalam hidupnya, begitu juga dengan Charles Darwin yang sering dimarahi gurunya karena lebih senang naik pohon dan mengamati makhluk disekitarnya dibandingkan duduk manis di kelas mendengarkan guru yang sedang mengajar. Contoh-contoh didepan merupakan beberapa contoh bagaimana sekolah kurang mampu mengakomodasi berbagai macam bentuk kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya. Sekolah sering terjebak pada sebuah anggapan bahwa semua siswa memiliki potensi, bakat , gaya belajar dan tingkat kepandaian yang sama sehingga pada akhirnya diperlakukan dan dilayani dengan metode yang seragam. Penyeragaman ini sangat berpotensi untuk membuat anak merasa jenuh dan terhambat kreatifitasnya.
Dalam beberapa ulasan banyak diuraikan penyebab kejenuhan siswa terhadap kegiatan belajar, salah satunya adalah metode belajar yang tidak tepat, tidak ada variasi pembelajaran, sarana sekolah yang sangat terbatas atau cara guru yang mengajar dengan cara monoton. Dari sebab-sebab diatas, tentunya yang paling berperan untuk melahirkan kembali hasrat untuk berprestasi dan kreatif adalah kemampuan guru dalam merekayasa proses pembalajaran menjadi lebih bermakna, berwarna dan bergaya.
Semoga tulisan ini sedikitnya mampu memberikan wawasan bagi guru dan sekolah untuk menghindari berbagai macam hal yang dapat menghambat bahkan mematikan kreatifitas siswa di sekolah.
4.     Pengertian Peserta Didik
Peserta didik adalah setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
Peserta didik juga dikenal dengan istilah lain seperi Siswa, Mahasiswa, Warga Belajar, Pelajar, Murid serta Santri.
5.     Macam-Macam Kebutuhan Siswa
Pemenuhan kebutuhan siswa disamping bertujuan untuk memberikan materi kegiatan setepat mungkin, juga materi pelajaran yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan biasanya menjadi lebih menarik. Dengan demikian akan membantu pelaksanaan proses belajar-mengajar. Adapun yang menjadi kebutuhan siswa antara lain :

a.     Kebutuhan Jasmani
Hal ini berkaitan dengan tuntutan siswa yang bersifat jasmaniah.
b.     Kebutuhan Rohaniah
Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan siswa yang bersifat rohaniah
c.     Kebutuhan Sosial
Pemenuhan keinginan untuk saling bergaul sesama peserta didik dan Pendidik serta orang lain. Dalam hal ini sekolah harus dipandang sebagai lembaga tempat para siswa belajar, beradaptasi, bergaul sesama teman yang berbeda jenis kelamin, suku bangsa, agama, status sosial dan kecakapan.
d.     Kebutuhan Intelektual
Setiap siswa tidak sama dalam hal minat untuk mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan dan peserta didik memiliki minat serta kecakapan yang berbeda beda. Untuk mengembangkannya bisa ciptakan pelajaran-pelajaran ekstra kurikuler yang dapat dipilih oleh siswa dalam rangka mengembangkan kemampuan intelektual yang dimilikinya.
6.     Kaitan Antara Bakat dan Prestasi
Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan dorongan atau motivasi agar bakat itu dapat terwujud. Misalnya seorang mempunyai bakat menggambar, jika ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengembangkan, maka bakat tersebut tidak akan tampak. Jika orang tuanya menyadari bahwa ia mempunyai bakat menggambar dan mengusahakan agar ia mendapat pengalaman yang sebaik-baiknya untuk mengembangkan bakatnya, dan anak itu juga menunjukkan minat yang besar untuk mengikuti pendidikan menggambar, maka ia akan dapat mencapai prestasi yang unggul bahkan dapat menjadi pelukis terkenal. Sebaliknya, seorang anak yang mendapat pendidikan menggambar dengan baik, namun tidak memiliki bakat menggambar, maka tidak akan pernah mencapai prestasi unggul untuk bidang tersebut. Keunggulan yang dimiliki siswa dalam salah satu bidang baik seni, sastra auatupun matematika merupakan hasil interaksi dari bakat yang dibawa sejak lahir dan faktor lingkungan yang menunjang, termasuk minat dan dorongan pribadi.
7.     Upaya Guru Dalam Mengembangkan Bakat Siswa Untuk Berprestasi
Guru sangat berperan penting dalam mengembangkan bakat siswa dalam berprestasi di sekolah. Kerjasama antara guru, keluarga, dan lingkungan sekitar sangat penting untuk mengembangkan bakat tersebut. Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan antara keluarga, guru, dan lingkungan adalah sebagai berikut :
a.      Sejak usia dini cermati berbagai kelebihan, keterampilan dan kemampuan yang tampak menonjol pada anak
b.     Bantu anak meyakini dan fokus pada kelebihan dirinya
c.     Kembangkan konsep diri positif pada anak
d.     Perkaya anak dengan berbagai wawasan, pengetahuan serta pengalaman di berbagai bidang
e.      Usahakan berbagai cara untuk meningkatkan minat anak untuk belajar dan menekuni bidang keunggulannya serta bidang-bidang lain yang berkaitan
f.       Tingkatkan motivasi anak untuk mengembangkan dan melatih kemampuannya
g.     Stimulasi anak untuk meluaskan kemampuannya dari satu bakat ke bakat yang lain
h.     Berikan penghargaan dan pujian untuk setiap usaha yang dilakukan anak
i.        Sediakan dan fasilitasi sarana bagi pengembangan bakat
j.        Dukung anak untuk mengatasi berbagai kesulitan dan hambatan dalam mengembangkan bakatnya
k.     Jalin hubungan baik serta akrab antara orang tua / guru dengan anak
l.        Menyalurkan bakat tersebut
m.   Memberikan kesempatan untuk mengikuti lomba-lomba sesuai bakat yang dimiliki



DAFTAR PUSTAKA

Yamin, Martinis, dkk. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Jakarta : GP Press.2009
Semiawan, R Conny. Belajar dan Pembelajaran Prasekolah dan Sekolah Dasar.Jakarta : PT Indeks. 2002
Suryabrata, Sumadi. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.2004.
H. Sunarto,dkk. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:Rineka Cipta.1999.
http://www.google.co.id


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar